Peran Apoteker Mengentaskan Tuberkulosis
Catatan dalam rangka hari paru sedunia, dimuat di Rubrik OPINI, Tribun Timur 26 Maret 2016
Hari Kamis ini tanggal 24 Maret 2016 diperingati sebagai
hari tuberkulosis sedunia, mementum ini menjadi sangat ideal bagi kita semua
untuk lebih peduli dan meningkatkan upaya-upaya kesehatan yg lebih memadai guna
mengentaskan penyakit tuberkulosis yang umum disebut TB paru. Indonesia menjadi
bagian dimana 80 % penderita TB paru didunia berada, yang meliputi kawasan asia
tenggara dan afrika. Untuk kasus TB MDR indonesia berada diperingkat 8 dari 27
negara dengan kasus TB MDR terbanyak didunia dengan perkiraan 1,9 % dari kasus
baru dan 12 % kasus pengobatan ulang. Pengobatan yang tidak standar terhadap
pasien yang "diduga" TB resistan obat atau TB MDR yang dilakukan di
rumah sakit, BKPM, Klinik swasta, praktisi Swasta dan fsyankes lainnya
memperparah resiten kuman TB (tbindonesia.or.id)
MDR
Ada dua klasifikasi terkait resistensi kuman terhadap
Obat-obat anti tuberkulosis (OAT), pertama TB resisten Obat yaitu TB yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang sudah mengalami
kekebalan terhadap obat OAT, sedangkan yang kedua Multi Drug Resisten
Tuberculosis (MDR-TB) adalah TB resisten obat terhadap minimal 2 (dua) obat
anti TB yang paling poten yaitu Isoniazid (INH) dan Rifampicin secara bersama
atau disertai resisten terhadap obat anti TB lini pertama lainnya seperti
etambutol, streptomicyn dan pirazinamid. Selain dua kategori tersebut, Dikenal
juga extensivle drug-resiten TB (XDR-TB).
Resiko yang dialami penderita TB MDR ini jauh lebih besar
dimana angka keberhasilan pengobatannya menjadi lebih rendah belum lagi harga
obat-obatan lini kedua yang dibutuhkan lebih mahal serta lama pengobatan
menjadi lebih panjang, bisa mebutuhkan waktu hingga18-24 bulan.
Deteksi dini menjadi kunci Pencegahan TB resisten obat ini,
dengan mendiagnosis secara dini setiap terduga TB resistan obat dan dilanjutkan
dengan pengobatan dengan OAT lini kedua sesuai standar. Pengobatan harus
dipantau kepatuhan dan ketuntasannya. Mengingat pengobatan TB secara sub
standar baik dalam hal panduan, lama dan cara pemberian pengobatan menjadi
pencetus meningkatnya jumlah kasus TB MDR sehingga kepedulian dan pengetahuan
tentang pengobatan TB MDR ini menjadi penting untuk semua insan kesehatan
terutama tenaga medis dan apoteker.
Mengoptimalkan Peran apoteker dalam pengentasan
Tuberkulosis
Dalam menentaskan TB paru, Apoteker dapat mengambil peran
dalam mengedukasi pasien tentang penyakit TB paru dan yang lebih utama bagaimana
mencegah penularan kuman penyakit tersebut.
Keberadaan apotek yang tersebar merata menjadi sarana
pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau dengan mudah dan cepat oleh masyarakat.
Ini merupakan sumber daya yang sangat relevan dan berharga yang dimiliki
profesi apoteker yang dapat ditawarkan ke pasien. Sebagai contoh pelayanan program
DOT (Directly Observed Treatment) TB paru sebagaimana yg telah
diimplementasikan di Farmasi Comunity (Apotek) di sejumlah negara (UK dan
India). Inisiatif ini bertujuan untuk melibatkan lebih banyak pihak sebagai
tenaga Profesional kesehtan yang memiliki keahlian dalam penanganan TB yang
dapat memberikan kenyamanan bagi pasien penderita TB dimana saat ini Kepatuhan pasien
terhadap regimen pengobatan menjadi tantangan. Ini juga dapat menjadi model
yang baik dalam kolaborasi pemerintah dan swasta dalam penguatan perogram
pengendalian TB nasional. Kelebihan lainnya meliputi : pasien mendapatkan
dukungan pelayanan dari profesi yang mempunyai keahlian dibidang obat-obatan, Apotik
merupakan tempat yang ramah dan nyaman bagi pasien untuk didatangi, dan program
ini memberikan pilihan yang lebih banyak bagi pasien.
Jika TB hendak di entaskan secara tuntas, upaya lebih massif
perlu dikerahkan terutama dalam mendeteksi dan mengobati TB paru secara dini
untuk mengurangi penyebarannya. Hal ini dapat dicapai dengan upaya terpadu oleh
keterlibatan semua elemen masyarakat termasuk apoteker. Apoteke sebagai salah
satu garda terdepan dan sering menjadi tempat pertama bagi masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan akan dapat memainkan peran penting dalam
pengendalian dan pemberantasan penyakit TB Paru.
Dalam memainkan peran secara nyata, apoteker dapat memiliki
peran dalam kapasitas membangun dan meyebarkan kesadaran diantara masyarakat
tentang TB baik informasi secara langsung maupun brosur di aspotek. Apoteker
dapat melakukan deteksi dini melalui pengamatan klinis dan memberikan rujukan
untuk proses diagnosis yang lebih efisien ke tenaga medis. Bahkan apotek dapat
mengorganisir tes dahak (mikroskopis) dana tes Mantoux.
Dalam proses pemantauan pengobatan dan dukungan perawatan
melalui konseling khusus tentang berbagai aspek perawatan seperti instruksi
dosis, pentingnya penyelesaian siklus pengobatan, efek samping obat, nutrisi
selama pengobatan serta rujukan untuk tidak lanjut tindakan medis dokter.
Bahkan apoteker di apotek dapat dilibatkan untuk berpartisipasi dalam
pengendalian TB sebagai penyedia DOT.
Dalam rangka untuk melakukan peran diatas, apoteker
membutuhkan pelatihan untuk memastikan bahwa mereka mahir dalam mengenali
gejala TB serta efek samping obat TB, diagnosis dan pengobatan TB, identifikasi
dan rujukan pasien TB dan hubungan yang harmonis harus dibangun antara
apoteker, asosiasi dan pemerintah.
Asosiasi apoteker dalam hal ini IAI (Ikatan Apoteker
Insonesia) harus terdepan dalam membangun kolaborasi dengan pemerintah dalam
mengatur program-program pelatihan dalam memotivasi apoteker untuk terlibat
dalam kegiatan sosial profesional ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar