Jumat, 05 Agustus 2016

Peran Apoteker Mengentaskan Tuberkulosis

Peran Apoteker Mengentaskan Tuberkulosis

Catatan dalam rangka hari paru sedunia, dimuat di Rubrik OPINI, Tribun Timur 26 Maret 2016

Hari Kamis ini tanggal 24 Maret 2016 diperingati sebagai hari tuberkulosis sedunia, mementum ini menjadi sangat ideal bagi kita semua untuk lebih peduli dan meningkatkan upaya-upaya kesehatan yg lebih memadai guna mengentaskan penyakit tuberkulosis yang umum disebut TB paru. Indonesia menjadi bagian dimana 80 % penderita TB paru didunia berada, yang meliputi kawasan asia tenggara dan afrika. Untuk kasus TB MDR indonesia berada diperingkat 8 dari 27 negara dengan kasus TB MDR terbanyak didunia dengan perkiraan 1,9 % dari kasus baru dan 12 % kasus pengobatan ulang. Pengobatan yang tidak standar terhadap pasien yang "diduga" TB resistan obat atau TB MDR yang dilakukan di rumah sakit, BKPM, Klinik swasta, praktisi Swasta dan fsyankes lainnya memperparah resiten kuman TB (tbindonesia.or.id)
MDR
Ada dua klasifikasi terkait resistensi kuman terhadap Obat-obat anti tuberkulosis (OAT), pertama TB resisten Obat yaitu TB yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang sudah mengalami kekebalan terhadap obat OAT, sedangkan yang kedua Multi Drug Resisten Tuberculosis (MDR-TB) adalah TB resisten obat terhadap minimal 2 (dua) obat anti TB yang paling poten yaitu Isoniazid (INH) dan Rifampicin secara bersama atau disertai resisten terhadap obat anti TB lini pertama lainnya seperti etambutol, streptomicyn dan pirazinamid. Selain dua kategori tersebut, Dikenal juga extensivle drug-resiten TB (XDR-TB).
Resiko yang dialami penderita TB MDR ini jauh lebih besar dimana angka keberhasilan pengobatannya menjadi lebih rendah belum lagi harga obat-obatan lini kedua yang dibutuhkan lebih mahal serta lama pengobatan menjadi lebih panjang, bisa mebutuhkan waktu hingga18-24 bulan.
Deteksi dini menjadi kunci Pencegahan TB resisten obat ini, dengan mendiagnosis secara dini setiap terduga TB resistan obat dan dilanjutkan dengan pengobatan dengan OAT lini kedua sesuai standar. Pengobatan harus dipantau kepatuhan dan ketuntasannya. Mengingat pengobatan TB secara sub standar baik dalam hal panduan, lama dan cara pemberian pengobatan menjadi pencetus meningkatnya jumlah kasus TB MDR sehingga kepedulian dan pengetahuan tentang pengobatan TB MDR ini menjadi penting untuk semua insan kesehatan terutama tenaga medis dan apoteker.
Mengoptimalkan Peran apoteker dalam pengentasan Tuberkulosis
Dalam menentaskan TB paru, Apoteker dapat mengambil peran dalam mengedukasi pasien tentang penyakit TB paru dan yang lebih utama bagaimana mencegah penularan kuman penyakit tersebut.
Keberadaan apotek yang tersebar merata menjadi sarana pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau dengan mudah dan cepat oleh masyarakat. Ini merupakan sumber daya yang sangat relevan dan berharga yang dimiliki profesi apoteker yang dapat ditawarkan ke pasien. Sebagai contoh pelayanan program DOT (Directly Observed Treatment) TB paru sebagaimana yg telah diimplementasikan di Farmasi Comunity (Apotek) di sejumlah negara (UK dan India). Inisiatif ini bertujuan untuk melibatkan lebih banyak pihak sebagai tenaga Profesional kesehtan yang memiliki keahlian dalam penanganan TB yang dapat memberikan kenyamanan bagi pasien penderita TB dimana saat ini Kepatuhan pasien terhadap regimen pengobatan menjadi tantangan. Ini juga dapat menjadi model yang baik dalam kolaborasi pemerintah dan swasta dalam penguatan perogram pengendalian TB nasional. Kelebihan lainnya meliputi : pasien mendapatkan dukungan pelayanan dari profesi yang mempunyai keahlian dibidang obat-obatan, Apotik merupakan tempat yang ramah dan nyaman bagi pasien untuk didatangi, dan program ini memberikan pilihan yang lebih banyak bagi pasien.
Jika TB hendak di entaskan secara tuntas, upaya lebih massif perlu dikerahkan terutama dalam mendeteksi dan mengobati TB paru secara dini untuk mengurangi penyebarannya. Hal ini dapat dicapai dengan upaya terpadu oleh keterlibatan semua elemen masyarakat termasuk apoteker. Apoteke sebagai salah satu garda terdepan dan sering menjadi tempat pertama bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan akan dapat memainkan peran penting dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit TB Paru.
Dalam memainkan peran secara nyata, apoteker dapat memiliki peran dalam kapasitas membangun dan meyebarkan kesadaran diantara masyarakat tentang TB baik informasi secara langsung maupun brosur di aspotek. Apoteker dapat melakukan deteksi dini melalui pengamatan klinis dan memberikan rujukan untuk proses diagnosis yang lebih efisien ke tenaga medis. Bahkan apotek dapat mengorganisir tes dahak (mikroskopis) dana tes Mantoux.
Dalam proses pemantauan pengobatan dan dukungan perawatan melalui konseling khusus tentang berbagai aspek perawatan seperti instruksi dosis, pentingnya penyelesaian siklus pengobatan, efek samping obat, nutrisi selama pengobatan serta rujukan untuk tidak lanjut tindakan medis dokter. Bahkan apoteker di apotek dapat dilibatkan untuk berpartisipasi dalam pengendalian TB sebagai penyedia DOT.
Dalam rangka untuk melakukan peran diatas, apoteker membutuhkan pelatihan untuk memastikan bahwa mereka mahir dalam mengenali gejala TB serta efek samping obat TB, diagnosis dan pengobatan TB, identifikasi dan rujukan pasien TB dan hubungan yang harmonis harus dibangun antara apoteker, asosiasi dan pemerintah.

Asosiasi apoteker dalam hal ini IAI (Ikatan Apoteker Insonesia) harus terdepan dalam membangun kolaborasi dengan pemerintah dalam mengatur program-program pelatihan dalam memotivasi apoteker untuk terlibat dalam kegiatan sosial profesional ini.

Tidak ada komentar: